Cerpen
Nira dan Janji di Tanah Lontar

Marthin
Kelas XII MIPA 2
16 Oktober 2026
4 menit baca
Matahari baru saja naik di atas Laut Sawu ketika Mama Nahale menyalakan api di tungku. Aroma nira yang direbus memenuhi dapur kecil beralas tanah itu. Di luar, angin kering berembus membawa debu tipis dari padang savana, menggoyangkan daun-daun lontar yang menjulang seperti penjaga tua.
“Mama, hari ini aku boleh ikut naik ke pohon?” tanya Nadapi, gadis berusia dua belas tahun, sambil menggosok mata yang masih mengantuk.
Mama Nahale tersenyum, namun tak langsung menjawab. Ia menatap putrinya lama. “Naik pohon lontar bukan pekerjaan anak perempuan kecil. Itu pekerjaan ayahmu dan para lelaki.”
“Tapi Bapa sudah dua minggu di Kupang,” Nadapi menunduk. “Katanya mengurus kapal. Pohon-pohon kita belum disadap, Mama. Nanti niranya tak ada.”
Kalimat itu menggantung di antara asap tungku. Mama Nahale tahu anaknya benar. Musim kemarau sedang di puncaknya, dan nira adalah napas hidup keluarga mereka. Dari nira itulah gula lempeng dibuat, dijual ke pasar, dan ditukar dengan beras serta buku sekolah Nadapi.
Siang itu, Mama Nahale membawa Dara ke rumah Opa Radja, tetua kampung yang sudah menyadap lontar sejak muda. Lelaki tua itu duduk di bale-bale bambu, jari-jarinya yang keriput sedang menganyam daun lontar menjadi sebuah haik, wadah nira yang indah.
“Opa, ajari aku menyadap,” kata Nadapi tanpa basa-basi.
Opa Radja tertawa pelan, suaranya serak seperti pelepah kering. “Kau tahu, Nak, orang Sabu percaya bahwa lontar adalah pemberian leluhur. Sebelum memotong mayang, kita bicara dulu pada pohonnya. Kita minta izin.”
“Bicara pada pohon?”
“Bukan dengan mulut saja, tapi dengan hati yang tenang dan tangan yang hormat. Pohon yang dihormati akan memberi lebih banyak.”
Sepanjang sore, Opa Radja mengajarkan segalanya: cara memilih mayang yang tepat, cara memijat dan memotongnya dengan sabar, cara menggantung wadah agar tak setetes pun terbuang. Nadapi mendengarkan dengan mata berbinar. Ia belum boleh memanjat, kata Opa, tetapi ia boleh menjaga tanah di bawah, merebus nira, dan mencatat semua yang dipelajari.
Hari-hari berlalu. Setiap subuh, Nadapi membantu Mama Nahale mengumpulkan nira dari pohon-pohon yang disadap tetangga yang berbaik hati, lalu merebusnya hingga mengental menjadi gula yang harum. Ia belajar menakar api, belajar sabar menunggu, belajar bahwa manis tak datang dengan tergesa.
Suatu sore menjelang akhir bulan, sebuah perahu motor merapat di dermaga kecil. Dari atasnya turun seorang lelaki bertopi anyaman, kulitnya legam terbakar matahari. Dara berlari sekencang-kencangnya.
“Bapa!”
Bapa Mamira memeluk putrinya erat-erat. Ketika ia melihat deretan gula lempeng yang tersusun rapi di bale-bale, matanya melebar. “Siapa yang membuat semua ini?”
“Kami semua, Bapa,” jawab Nadapi. “Mama, Opa Radja, tetangga, dan aku. Kata Opa, di Sabu tak ada yang berjalan sendirian.”
Malam itu, di bawah langit penuh bintang yang seolah lebih dekat di pulau kecil ini, keluarga kecil itu duduk melingkar menikmati gula lontar hangat. Di kejauhan, ombak Laut Sawu berdebur pelan, seperti menyetujui sebuah janji yang diam-diam dibuat Dara dalam hatinya: kelak, ia akan menjaga tanah lontar ini, dengan hormat, dengan sabar, dan dengan hati yang manis.
Bagikan karya ini:
Punya Karya Serupa?
Kembangkan bakat tulismu dan jadilah bagian dari etalase karya literasi SMAN 2 Hawu Mehara.
Kirim Karyamu Sekarang