Opini

Lontar, Harta yang Belum Sepenuhnya Kita Hargai

Marthin
Marthin
Kelas XII MIPA 2
16 Oktober 2026
2 menit baca
Di banyak daerah, kekayaan alam sering dipahami sebagai tambang, hutan, atau hamparan sawah. Sabu Raijua punya kekayaan yang bentuknya berbeda: pohon lontar. Ia tumbuh di tanah kering yang oleh banyak orang dianggap tidak menjanjikan, tetapi justru menjadi sumber pangan, penghasilan, bahan anyaman, hingga identitas budaya masyarakat. Persoalannya, kita masih sering berhenti pada rasa bangga. Lontar disebut dalam pidato dan puisi, tetapi pengolahannya di tingkat rumah tangga banyak yang masih sederhana. Gula lempeng dijual dalam bentuk mentah dengan harga yang fluktuatif, sementara kemasan, merek, dan jaringan pemasaran jarang digarap serius. Menurut saya, ada tiga hal yang perlu didorong. Pertama, pelatihan pengolahan nira menjadi produk bernilai tambah, seperti gula semut, sirup, dan makanan olahan, dengan standar kebersihan yang baik. Kedua, pendampingan kemasan dan pemasaran digital agar produk Sabu Raijua bisa dikenal di luar NTT. Ketiga, regenerasi penyadap. Anak muda perlu melihat bahwa menyadap lontar bisa menjadi pekerjaan yang bermartabat dan menguntungkan, bukan sekadar warisan yang ditinggalkan. Sabu Raijua tidak perlu menjadi daerah lain untuk maju. Ia hanya perlu menjadi dirinya sendiri dengan cara yang lebih cerdas.
Bagikan karya ini:

Punya Karya Serupa?

Kembangkan bakat tulismu dan jadilah bagian dari etalase karya literasi SMAN 2 Hawu Mehara.

Kirim Karyamu Sekarang
Online
Hari Ini
Bulan Ini
Total

© 2026 SMA Negeri 2 Hawu Mehara. All rights reserved.